KESALAHFAHAMAN TENTANG RUQYAH (bagian 2)
KESALAHFAHAMAN TENTANG RUQYAH (bagian 2)
Ruqyah dapat dilakukan oleh siapa saja
Sebagian orang menganggap bahwa ruqyah hanya bisa dilakukan
oleh orang tertentu saja seperti ustadz atau kyai. Sehingga ketika seseorang
merasa membutuhkan ruqyah, dia selalu mencari pertolongan ustadz atau kyai tersebut.
Padahal, ruqyah bukan hanya khusus bisa dilakukan oleh orang tertentu. Akan tetapi,
bisa dilakukan oleh siapa saja dengan melakukan ruqyah mandiri.
Hakikat ruqyah adalah berdoa kepada Allah Ta’ala. Sehingga kapan
pun seorang muslim tertimpa musibah dengan jatuh sakit, hendaknya dia meruqyah
diri sendiri kemudian menempuh usaha lainnya seperti berobat ke dokter. Sehingga
ruqyah sebetulnya adalah usaha pertama yang harus ditempuh oleh seorang muslim
ketika jatuh sakit, sebelum menempuh usaha atau sebab-sebab kesembuhan lainna.
Bahkan, meminta untuk diruqyah oleh orang lain (ustadz,
kyai, atau yang lain) bisa jadi mengurangi ketauhidan dan sikap tawakkal
seseorang . Rasulullah SAW menjelaskan bahwa di antara ummat beliau, ada
orang-orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab di neraka. Siapakah mereka?
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan (yang artinya) : “Nabi shallallaahu
‘alaihi wasallam bersabda, ‘Telah ditampakkan kepadaku umat-umat. Aku melihat
seorang Nabi yang bersamanya beberapa orang dan seorang Nabi yang bersamanya
satu dan dua orang, serta seorang Nabi yang tidak ada seorangpun bersamanya. Tiba-tiba
ditampakkan kepadaku, suatu jumlah yang banyak. Aku pun mengira bahwa mereka
adalah umatku. Tetapi dikatakan kepadaku, “ini adalah Musa bersama kaumnya’. Lalu,
tiba-tiba aku melihat lagi suatu jumlah yang besar pula. Maka dikatakan
kepadaku, “ini adalah umatmu, dan bersama mereka ada 70.000 orang yang masuk
surga tanpa hisab dan tanpa adzab.”
Kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bangkit dan
bergegas masuk ke dalam rumahnya. Maka orang-orang pun mulai membicarakan
siapakah mereka itu. Diantara mereka ada yang berkata, “Mungkin saja mereka
adalah orang-orang yang menjadi sahabat Rasulullah.” Ada lagi yang berkata, “mungkin
saja mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan islam, sehingga
mereka tidak pernah berbuat syirik sedikit pun kepada Allah.”
Mereka juga menyebutkan lagi beberapa perkara (kemungkinan)
yang lain. Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam keluar, mereka
memberitahukan hal tersebut kepada beliau. Maka beliau bersabda, “Mereka itu
adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak meminta supaya lukanya ditempel
dengan besi yang dipanaskan (baca : pengobatan dengan “kay”), dan tidak
melakukan tathayyur, dan mereka pun bertawakkal kepada Rabb mereka.” (HR.
Bukhari no. 5705, 5752 dan Muslim no. 220)
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullaahu Ta’aalaa menjelaskan
(yang artinya) :
“Hal itu karena mereka masuk surga tanpa hisab disebabkan
oleh kesempurnaan tauhid yang mereka miliki. Sehingga mereka tidak
pernah melakukan istirqa’, yaitu meminta untuk diruqyah oleh orang lain.”
Meminta untuk diruqyah oleh orang lain dapat mengurangi
kesempurnaan tauhid seseorang, karena pada diri orang yang meminta diruqyah,
terdapat kecondongan dan penyandaran hati kepada selain Allah Ta’ala. Ketika meminta
untuk diruqya, hatinya cenderung lebih condong kepada seseorang yang dia mintai
tolong tersebut (kyai atau ustadz) atau kepada ruqyah itu sendiri, dan bukan
bersandar kepada Allah Ta’ala. Diantara indikasinya, hati seseorang merasa “lebih
mantap” ketika diruqyah oleh kyai fulan. Apalagi jika disertai keyakinan-keyakinan
berlebihan terhadap sosok peruqyah tersebut, misalnya ruqyah yang dilakikan
kyai fulan “pasti” mujarab atau “pasti” berhasil.
Syaikh Shalih bin ‘Abdul “Aziz Alu Syaikh hafidzahullahu Ta’aalaa
berkata ketika menjelaskan makna hadits di atas, (yang artinya) :
“Karena seseorang yang meminta ruqyah akan menyebabkan
ketergantungan hati kepada peruqyah. Sampai-sampai dia mengangkat
derajatnya lebih dari sekedar sarana (maksudnya, dia menyangka bahwa peruqyah
adalah penyebab kesembuhan itu sendiri). Inilah maksud menafikan dalam hadits “tidak
minta diruqyah”. Terkait dengan ruqyah, manusia bisa jadi lebih bergantung
kepada ruqyah dari pada pengobatan kedokteran atau sejenisnya.”
Akan tetapi, jika terdapat kebutuhan (al-haajah) untuk meminta
diruqyah, hal ini tidaklah mengapa. dengan penekanan bahwa dia senantiasa
memperhatikan kondisi hatinya, jangan sampai bergantung kepada ruqyah atau si
peruqyah itu sendiri, dan kosong (lalai) dari bergantung dan bertawakkal kepada
Allah Ta’ala. Karena berpengaruh atu tidaknya ruqyah merupakan kekuasaan Allah
Ta’ala, bukan tergantung pada ruqyah itu sendiri atau siapa yang meruqyah.
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz rahimahullahu Ta’aalaa
menjelaskan, (yang artinya) :
“Hadits ini menunjukkan bahwa tidak meminta-minta itu lebih
utama, demikian juga dengan meninggalkan kay. Akan tetapi, ketika keduanya
dibutuhkan, tidak mengapa meminta ruqyah dan melakikan kay. Karena Nabi SAW
memerintahkan ‘Aisyah untuk meminta ruqyah ketika dia jatuh sakit. Dan Nabi
juga memerintahkan ibu dari anak-anak Ja’far bin Abi Thalib, yaitu Asma’ binti ‘Umais
r.a, untuk memintakan ruqyah bagi mereka. Hal ini semua menunjukkan, bahwa
tidak mengapa meminta ruqyah ketika betul-betul dibutuhkan.”
Sumber : https://muslim.or.id
Semoga bermanfaat
Wallaahu ‘A’lam

0 Response to "KESALAHFAHAMAN TENTANG RUQYAH (bagian 2)"
Post a Comment